Ditulis dalam Album Foto
Tangkuban Perahu n Ciater
Tafakur : Refleksi
Ditulis dalam Album Foto
Cerita Camar Cemar
Cerita Camar Cemar;
Kisah Perjaka yang Meniti Jodoh
Oleh: Win_Y_Fals
(Staff Pengajar SMAM 1 Gresik- Mantan Bendahara PC IMM Denpasar)
Bila jumlah wanita lebih banyak dari pria. Maka tidaklah sulit bagi seorang pria untuk memperoleh seorang gadis untuk dijadikan istri. Terutama gadis yang berusia 25 tahun.Beberapa bulan lagi Abdul akan genap 25 tahun. Dibandingkan dengan teman sebayanya, ia sudah dipandang terlambat beristri. Bukan karena belum mempunyai gadis pujaan, melainkan karena idealismenya yang meluap-luap dalam ranah pergerakan kemahasiswaan (meski ia sudah purna mahasiswa), kepemudaan, kebangsaan, dan politik tentunya. Ketika ia menyadari bahwa perjuangannya dalam memikirkan republik ini tak akan pernah selesai, mimpi buruk pun seakan menghantui “Akankah ia akan terus berpredikat perjaka?”. Telisik punya telusuk, baginya tidaklah mudah tuk mendapatkan seorang istri. Padahal ia telah mempunyai teman ‘dekat’ yang kata orang2 berwajah manis, imut, lucu. ramah, baik hati, solekhah, dll, meskipun sedikit pintar, egois, cemburuan, dll.
Ada tiga macam hal yang sebetulnya tidak begitu masuk logikanya. Pertama, demi menyenangkan hati orang tuanya, agar generasi muslimah penerus bangsa sedikit beradab. Ia mendambakan seorang gadis yang memakai jilbab panjang lagi cantik. Tidak seperti Aisyah (teman ter’dekat’nya) yang jilbabnya tanggung, kecil tidak, panjang apalagi, cantik? kata orang sih manis. Ternyata menemukan muslimah pujaannnya tidak lah mudah di tengah muslimah Indonesia yang notabene suka yang serba mini.
Kedua, Abdul berdarah campuran Bugis - Sunda. Sedangkan Aisyah Bugis tulen. Ketiga, kalkulasi biaya hidup yang tak ‘kan pernah pas lagi bila ia menikah. Menurut perhitungannya, setelah membayar uang makan, pulsa, dan ongkos taksi, maka habislah isi kantongnya.. Menurut logikanya, jika ditambah tuk biaya sang istri, maka belum sepekan pastilah kantongnya sudah bolong. Setelah dihitung lebih cermat, jumlah gajinya (meski sekarang belum puya pekerjaan) hanya akan dapat membelikan sang istri sepasang pakaian (waktu lebaran) dan makan di restoran agak mahal 8 minggu sekali. Yang paling menyesakkan dada ialah bila istrinya hamil (meski itu karena hasil perbuatannya juga) dan melahirkan. Berdasarkan penelitian pribadinya, ongkos sekali periksa ke dokter (bukan dukun lho), sama dengan uang pulsa tuk ketiga HP-nya. Biaya bersalin akan menelan uang ongkos taksi yang akan ia pakai tuk berkunjung ke PAN, PDI-P, Golkar, atau mungkin PMB. Belum lagi pengeluaran ‘tuk si jabang bayi, ‘tuk popok, gurita (bukan cumi-cumi), susu, dan tetek bengek lainnya. Intinya, kesimpulannya, ia tidak akan bisa menikah seumur hidup. Kecuali jika ia mau mengikuti jejak Pak Harto (sahabat penanya), yang menjadi Anggota Dewan, meski hanya tingkat daerah, tetapi bisa memberi nafkah seorang istri (bukan penganut poligamisme) dan sepuluh anaknya, Wow!
Jalan keluar lain tuk masalahnya ialah menikah dengan seorang gadis yang mempunyai pekerjaan (lho, bukannya Aisyah sudah menjadi oemar bakriwati?)- tapi yang dimaksud Abdul adalah seorang PNS. PNS mempunyai tugas yang ringan dan bagi Abdul PNS yang ideal adalah oemar bakriwati juga. Alasannya, oemar bakriwati sudah terbiasa dengan hidup yang minimalis (sederhana).
Adakah seorang gadis yang cantik, berjilbab panjang, menjadi Guru (PNS), dan tidak mempermasalahkan darah campuran Abdul? yang pasti bukan Aisyah jawabannya. Ternyata ada, Ani namanya. Usianya lebih mudah empat tahun. Ia adalah gadis yang menyenangkan. Abdul pernah dekat dengannya. Namun Abdul selalu gagal mengajaknya keluar tuk menonton bioskop. Ada saja alasannya. Selain langit mendung, filmnya jelek, atau badannya kurang sehat. Hanya sekali Abdul berhasil mengajaknya keluar tuk menonton bioskop. Itu pun karena disertai nenek Ani yang hobi nonton film drama.
Suatu malam, Abdul bertandang ke rumah Ani ‘tuk kesekian kalinya. Akan tetapi tumben sambutan Ani begitu galak, “Jangan kemari lagi kau!”. Termangu Abdul mendengar ucapan Ani. Apalagi saat Ani menyebutkan nama Cika, Devi, Eva, Fani, Gina, dan seabreg nama kaum hawa lainnya. Nama-nama yang secara jujur diakui Abdul secara intensif sering sms-an dengannya. Tapi dari mana Ani tau? Apa ia keturunan dukun?
“Aku tidak serius sama mereka. Mereka hanya kuanggap sebagai adik, kakak, teman, dan kader,” kata Abdul membela diri. “Ternyata enak ya jadi laki-laki. Begitu mudah mengumbar kata-kata bijak lewat sms ke teman-teman cewek, tapi selalu bilang persis yang kau ucapkan barusan.” umpat Ani seraya menutup pintu rumah. Abdul masih diam lesu di teras.
Dengan lunglai Abdul menjauh dari rumah Ani sambil menyesali perbuatannya selama ini yang sering sms ke banyak cewek. Meskipun teman-teman smsnya itu tak ada yang menarik hatinya. Selain tidak cukup cantik, juga tidak punya pekerjaan tetap, apalagi PNS.
Malam itu abdul kehilangan banyak teman cewek. Ia mulai menjaga jarak dengan mereka, bukan demi Ani, tetapi kesadarannya dari dalam lubuk hati bahwa “tidak baik menyakiti orang yang kita cintai.” Masalahnya, siapa sebenarnya wanita yang dicintai Abdul? karena ternyata bukan Ani.
Detik-detik menuju usia 26 tahun. Abdul semakin resah dan menyadari bahwa sudah waktunya ia menjadi seorang suami. Sekiranya Abdul tidak berpegang teguh pada idealismenya, sesungguhnya ia dapat menikah di akhir tahun ini.
Asal dia mau mengalah dari idealismenya. Soal belum menjdi anggota dewan atau tokoh pemikir, bukanlah alasan tuk menunda pernikahan. Abdul bukannya tidak bisa mencari kerja dan menafkahi keluarganya. Namun menurutnya, kalau belum mampu memperbaiki republik ini, maka janganlah ikut serta menambah bebannya.
Sebetulnya Abdul telah mnyimpulkan bahwa laki-laki tidak pernah terlalu tua untuk memperoleh jodoh. Namun setiap ia ingat pada orang tua dan usianya, timbul juga kesadaran kuat baginya tuk mencari istri.
Abdul pun mulai bertindak. Ia mengikuti rubrik kontak jodoh melalui sebuah koran lokal. Ia menemukan 25 gadis (sama seperti usianya). Umumnya mereka berusia 23 tahun. Semua mempunyai pekerjaan. Namun hanya tiga yang menjadi oemar bakriwati PNS. Abdul mengocok ketiga nama gadis tersebu, siapa yang keluar itulah yang dipilihnya (seperti arisan). Ternyata yang keluar adalah gadis bernomor anggota 1602, dengan ciri-ciri berjilbab sedang-sedang saja, sedikit pintar, dan cembururan. Ia menghela nafas panjang. Mereka akan bersua di sebuah pantai pukul tujuh malam. Gadis 1602 itu akan memakai rok batik, kemeja putih, dan jilbab hitam. Sedangkan Abdul memakai celana hitam dan kemeja biru. Mereka berjanji ketemu di sebuah warung nasi goreng tepat di ujung pantai sebelah kiri.
Abdul bergegas menuju warung nasi goreng yang dimksud. Dari kejauhan dia melihat gadis sesuai ciri-ciri yang disebutkan petugas kontak jodoh. Segera Abdul menghampiri gadis itu. Ketika ia hendak menyapa, gadis itu serta merta menoleh “Ya Allah, Aisyah!” teriak Abdul. “Masya Allah, kang Abdul!”, teriak Aisyah tak kalah histerisnya. Tiba-tiba mata Aisyah berkaca-kaca. Entah air mata kebahagiaan atau kesedihan, karena Abdul t’lah cukup lama menggantung hatinya. Aisyah dengan tenang meninggalkan Abdul dan dengan tergesa-gesa Abdul menyusul Aisyah. Dalam benak Abdul, Aisyah pastilah jodoh yang ditunjukkan oleh Allah. Peristiwa itu bukanlah suatu kebetulan, tapi sudah suratan jodoh. Setelah cukup dekat, Abdul menggenggam tangan Aisyah. Aisyah diam seribu bahaasa, hanya air matanya yang sederas air terjun niagara yang bercucuran. Ternyata diam-diam Abdul juga meneteskan air mata. Suatu pemandangan yang aneh. Sejoli pria-wanita berjalan di tepi pantai bergandengan tangan tanpa kata-kata dengan air mata yang berderai.
“Aisyah, maaf, aku menyesal, mengapa baru sekarang kusadari, kaulah wanita yang kucari. Selama ini aku merasa gengsi ‘tuk mengakui bahwa aku sebenarnya mencintaimu,” Abdul mengiba. “Kang Abdul, ingatkah kau, bulan delapan kemarin, di pantai ini, akang bilang bahwa umur akang sudah 25 tahun dan sudah waktunya menikah. Saat itu akang juga bilang, kalau cita-cita akang menikah pada umur 28 tahun. Lebih parahnya akang bilang waktu itu bahwa kapan pun akang akan siap nikahin saya. Hari itu pun akang bilang siap nikahin saya. Oh…sungguh janji yang sangat indah, belum lagi janji akang lainnya.
Saya mencintai akang karena Allah dan ikhlas jika Allah juga yang memisahkan kita. Saya wanita, butuh kasih, sayang, cinta, keyakinan, dan bukti dari segala janji. Maaf kang, jika malam ini kau beri aku janji lagi dan kau gantung aku lagi, lebih baik kita sudahi saja… Aisyah bernyanyi dalam hati “…Betapa aku menyanjungi dirimu…buta mata dan hati untuk yang lain…burung berkicau tanda setia pada pagi…Ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi…Jantungku kau minta pun kan kuberikan…Betapa dalamnya cinta untukmu..,” sambil melepaskan tangan Abdul dan berlalu. Februari…di tahun yang berbeda… “Abi sayang umi…,” Abdul berkata sambil mencium kening, kedua mata, hidung, kedua pipi, dan bibir Aisyah. Aisyah membalas hal yang sama. Mereka berpelukan mesra, sangat bahagia. Mereka (Abdul dan Aisyah) sudah menikah. Bukan di usia Abdul yang ke-25 tahun seperti yang ia katakan pada Aisyah atau 28 tahun seperti yang ia idam-idamkan, tapi di usia 27 tahun. Rencana manusia boleh-boleh saja. Keputusannya mutlak hak Allah SWT.
Mereka menikah dengan pesta pora yang sangat meriah menurut adat Bugis dan Sunda. Road Party di tiga tempat, Jawa Timur-Jawa Barat-DKI Jakarta. Ada keinginan Aisyah yang terpendam, ingin tasyakuran di tanah kelahiran bapaknya-Sulawesi Selatan, dan rencana itu akan segera terealisasikan. Abdul dan Aisyah dikaruniai dua anak hawa dan adam, serta berniat menambah lebih banyak lagi.
Menurut kata orang bijak “banyak anak banyak rezeki”. Ternyata kenyataan berkeluarga itu lebih indah dari yang dibayangkan oleh Abdul dan Aisyah. Perhitungan biaya hidup ternyata bukan kalkulasi yang eksak. Malah ketika anak ketiga mereka lahir, Abdul meminta Aisyah berhenti menjadi oemar bakriwati. Abdul sendiri sudah tiga tahun menjadi anggota dewan di pusat, dalam naungan Parpol terkemuka di republik ini. Idealisme masa perjaka Abdul ternyata suatu utopia semata, yakni idealisme yang membius orang-orang yang tidak punya beban hidup (tidak seperti Aisyah yang merasa sangat berat memikul beban hidupnya sendiri).
Idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi seorang suami dan menjadi seorang ayah adalah idealisme yang abadi, yakni berusaha agar dapat membahagiakan istri dan anak-anak. Jika suatu hari Abdul membaca koran yang mengisahkan idealisme pemuda dalam perjuangan mencapai cita-citanya setinggi langit. Cepat-cepat ia mencari Aisyah, memeluk dan mencium keningnya. “Alhamdulillah kita sudah menikah, hingga kita dapat bertukar pikiran bersama-sama memikirkan dan mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi republik ini…”
Ditulis dalam Cerpen
-Ummy: Nur al-Qalby Wa Shadr al-Dzauqy
-Ummy: Nur al-Qalby Wa Shadr al-Dzauqy
Ditulis dalam Album Foto
Silaturrahim Ke POLDA METRO Jaya
Silaturrahim dengan Munarman dan Habib Rizieq
Hari Kamis (26/06/2008), bersama teman-teman dari FPMI (Forum Pemuda Mahasiswa Islam), aku membesuk Bang Munarman dan Habib Riziq Shihab.
Tepat pukul 10.00 WIB, aku memasuki gerbang POLDA METRO JAYA dan langsung berbegas menuju Gedung Reskrim Narkoba, dimana Munarman dan Habib di tahan. Setelah menyerahkan identitas dan HP, aku bisa masuk. Aku langsung menuju lantai 3 dimana Munarwan Mendekam. Disana nampak Munarwan sudah berbincang dengan kawan-kawan dari FPMI (GPI, PII, HMI MPO, HMI DIPO, GEMA PEMBEBASAN dan HIMA PERSIS). Ketika datang, aku langsung menyalami Bang Munarwan dan Memeluknya. Bagiku, entah sama atau beda pandanganku dengan Bang Munarman, ini adalah ukhuwah al-islamiyyah.
Kepada Bang Munarman, aku menyampaikan permintaan maafku, atas keterlambatan menjenguk beliau. Aku sampaikan, bahwa ketika terjadi tragedi Monas 1 Juni 1945, aku baru datang dari Lampung. Dan Aku baru tahu secara lengkap pemberitaan tentang Beliau dari beragam media (dari mulai Tragedi Monas, Beliau menjadi “Buron” dan juga ketika beliau menyerahkan diri ke POLDA METRO Jaya) ketika aku sedang di Gresik Jawa Timur. Waktu beliau dianggap Buron oleh Polisi, aku sempat meng-SMS beliau, tapi sayang hp-nya sudah tidak aktif lagi. Memang selama ini, aku dan Bang Munarman sering berkomunikasi lewat SMS. Apalagi ketika pandangan kami sama berkaitan dengan NAMRU 2.
Selama satu jam kami berdialog dengan Beliau. Ada beberapa pesan beliau:
1. Revolusi Sosial selalu diawali oleh subyek gerakan, sedangkan obyektifitas gerakan hanyalah pelengkap
2. Tidak ada sejarah revolusi yang disertai oleh kesiapan rakyat. Revolusi meniscayakan kesiapan TOP LEADER, bukan rakyat. Ketika revolusi meletus, dengan sendirinya rakyat akan mengikuti.
3. Dunia bukan tempat perdamaian, maka sia-sialah konferensi-konferensi perdamaian dunia selama ini. Tempat damai hanya di surga. (ketika beliau membicarakan ini, beliau melirikku sambil sedikit terseyum. Bagiku dan juga bagi yang lain, ini adalah sindiran buatku, yang ketika itu, Sang Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof.DR. Dien Syamsudin sedang mengadakan Word Peace Forum di Hotel Sulthan)
Setelah cukup kami berbincang, akhirnya kami pamit. Sebelum berpisah, sekali lagi, aku dan Bang Munarman berpelukan, dan beliau berpesan, agar IMM maju terdepan dalam memperjuangkan syariat al-islam.
Setelah selesai bersua dengan Bang Munarman, kami turun ke lantai 1 dan masuk ke sel nya Habib Rizieq Shihab. Kami pun berbincang dengan Habib yang nampak di TV laksana komando yang keras hati dan galak. Bagiku, ini pertemuanku yang pertama dengan Habib. Dan sungguh aneh, ketika berhadapan langsung, kesan galak dan keras hati itu, lenyap. Nampak dimataku, Habib adalah sosok pemimpin yang sopan, santun, halus dan jujur. Selain tegas, beliau juga sangat terbuka terhadap kritikan. Bahkan dengan rendah hati, beliau meminta kami untuk memberikan masukan bahkan mengkritiknya.
Selama sejam lebih, ditdampingi istri Habib, kami berbincang tentang situasi ummat Islam masa kini dan juga tentang proses penangkapan beliau. Kami juga memberikan masukan kepada Habib jangan sampai terjebak kedalam strategi-strategi yang dilakukan oleh yang tidak suka. Kepadaku beliau berbisik, majulah terus IMM.
Ditulis dalam Catatan-Ku, Tak Berkategori
Rumah Baru Anggota KPU
Rumah Baru Anggota KPU
Hari Rabu (25/06/2008). Aku menghadiri Tasyakuran Peresmian Rumah Dinas KPU di Pejaten. Yang Mengadakan Tasyakuran tak lain adalah Ketua KPU Pusat, Pak Hafidz al-Anshari. Aku hadir, karena aku di SMS oleh salah satu anggota KPU Pusat yang kebetulan seniorku di IMM, Ka Andi Nurpati. Ketika masuk ke komplek dinas KPU, aku sedikit berdecak kagum. Komplek yang hanya berisi 8 rumah ini, lumayan bagus dan sangat memadai bagi seorang pejabat KPU Pusat. Memang ada temanku yang juga datang kesana, menganggap hal ini tidak wajar. Tapi bagiku, ini adalah suatu kewajaran bagi seorang pejabat publik. Yang tidak wajar, menurutku, seandainya fasilitas ini tidak disertai dengan kinerja yang bagus.
Setelah selesai ramah tamah di rumah sang ketua KPU, akupun singgah di rumah Ka Andi Nurpati yang paling pojok. Setelah sedikit berbincang dan juga meminta beliau menjadi pembina Pena Muda Indonesia, akhirnya aku pamit..
Ditulis dalam Catatan-Ku
Silaturrahim Ke KOMNAS HAM
Silaturrahiem Dengan Syekh Siti Jenar Muhammadiyah
Hari Selasa (24/06/2008), aku bersilaturahiem dengan Prof. DR. Abdul Munir Mulkhan di KOMNAS HAM. Sehari sebelumnya, aku SMS beliau, meminta waktu luang dari beliau. Al-Hamdulillah hari selasa itu, aku bisa bertemu dengan beliau, tepat pukul 13.15 WIB. Ini adalah pertemuan pertamaku dengan beliau, setelah sekian lama, hanya berkomunikasi lewat SMS.
Dulu, ketika aku masih semester 2 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan masih aktif di HMI MPO Cabang Jakarta Selatan, aku pernah mengundang beliau sebagai pembicara pada bedah bukunya “Teologi Kiri” yang disandingkan di Mr. GM (Gunawan Muhammad). Karena aku hanya sebagai panitia pelengkap, aku tak sempat berkomunikasi dengan Pak Munir secara langsung. Aku hanya merenungkan gagasan-gagasan beliau dari pembicaraannya dan juga dari semua bukunya.
Pak Munir, merupakan tokoh Muhammadiyah fenomenal. Bahkan setelah MUKTAMAR Muhammadiyah di Malang, beliau di “blacklist” karena dianggap sangat liberal. Beliau adalah Syekh Siti Jenar-nya Muhammadiyah, yang mendapat eksekusi dari para wali Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang.
Tujuan bertemu dengan Pak Munir, selain bersilaturrahim, juga memohon kepada beliau untuk bersedia menjadi Pembina Pena Muda Indonesia. Pena Muda Indonesia merupakan sebuah lembaga yang baru kami dirikan dengan beberapa teman di Apartemen Menteng Prada Kamar 1202. Alhamdulilllah beliau bersedia. Sebelum berpisah, beliau memberikan masukan yang cukup penting. Diantaranya, beliau mengingatkan bahwa, kritisisme dan juga intelektualitas Muhammadiyah yang semakin merosot. Bahkan menurut pengamatan (bukan penelitian) beliau, tahun 1940-an adalah tahun dimana Muhammadiyah mengalami institusionalisasi organisasi besar-besaran dan ini menimbulkan tumpulnya kritisisme Muhammadiyah. Kepada generasi muda beliau mengingatkan, seringkali idealisme kaum muda terganjal oleh hal-hal yang bersifat teknis.
Setelah satu jam kami bersua, akhirnya aku pamit.
Ditulis dalam Catatan-Ku
Menulis FPI
assalammualaikum
pa kabar k? smoga k2 slalu dalam keadaan sehat walafiat dan bertambah ilmunya dalam mencapai tujuan hidup k2 yang telah di save dalam komputer terhebat yang Allah buat (otak).. amin
k, irma butuh bantuan dari k2..
hari rabu, 18 juni 2008. teman sy dari FORMACI meminta bantuan untuk menulis sebuah opini yang kan dimasukkan ke buletin mereka.. temanya tentang: ” front Pembela Islam” berkaitan dengan Amnesia dalam beragama..
pertamakali dengar irma bingung mau nulis apa karna irma sama sekali ga pernah nulis tentang itu dan irma kurang yakin kalau irma bisa nulis tentang tema ini dengan baik karena jauhh banget dengan akademisi irma…
tapii dengan setengan PD irma mencoba menulis tentang itu dan dikasih waktu 5 hari sampai hari minggu besok tgl 20 juni 2008…
dan sy baru mencoba menilis hari ini…
Insya Allah irma akan kirin email tentang tulisan irma ke k2, dan irma mohon bantuan saran dan kritiknya sebelum tulisan itu benar-benar irma kirim ke FORMACI….
Sebelumnya makasih banyak k.. Mohon maaf banget kalau ngerotin dan ganggu waktu sibuk k2….
Before n after thanks for all….
wasalam
Ditulis dalam Hallo DPD
Kategori
- About Me
- Agenda : Kalaidoskop
- Album Foto
- Catatan-Ku
- Cerpen
- Denting Kalbu
- Doa
- Film- Cinema
- Hallo DPD
- IMM
- Konsepsi Manusia : AMM
- Lirik Nasyid
- Lirik Padang Pasir
- Muhaddatsah
- Muhammadiyyah
- Oase Kata
- Opini : Nadhar
- SMS dan Inbox Email
- SMS Undangan
- Sosok Teladan
- Suratan Takdir : AMM
- Tak Berkategori
- Tasawwuf : Akhlak
- Ucapan : Undangan














